Mufasyahnews.com, Makassar – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan melalui media sosial bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah meninggal dunia. Ia menyebut momen tersebut sebagai peluang bagi rakyat Iran untuk menentukan kembali masa depan negaranya.
Kematian Khamenei terjadi tanpa penunjukan pengganti, sehingga memunculkan ketidakpastian politik di Iran dan meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan. Situasi ini memicu respons cepat komunitas internasional.
Menanggapi eskalasi tersebut, Dewan Keamanan PBB menjadwalkan pertemuan darurat guna membahas serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan Teheran. Banyak negara memilih sikap hati-hati. Sejumlah pemerintah menahan diri untuk tidak memberikan komentar tegas terhadap operasi militer AS dan Israel, namun secara terbuka mengecam serangan Iran ke negara-negara tetangga Arab.
Australia dan Kanada menyatakan dukungan terhadap langkah militer AS. Sebaliknya, Rusia dan China menyampaikan kritik langsung, dengan menilai serangan tersebut berpotensi memperburuk stabilitas global.
Di Eropa, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mendesak Amerika Serikat dan Iran kembali ke meja perundingan terkait program nuklir. Ketiganya menegaskan negara mereka tidak terlibat dalam serangan, tetapi tetap berkoordinasi dengan mitra internasional di kawasan. Mereka juga mengutuk serangan Iran dan meminta semua pihak menahan diri.
Di Timur Tengah, Liga Arab mengecam serangan Iran yang dinilai melanggar kedaulatan negara-negara anggota. Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk menyebut tindakan tersebut sebagai agresi berbahaya. Oman, yang selama ini berperan sebagai mediator, menilai aksi militer AS melanggar prinsip hukum internasional dan penyelesaian damai.
Selandia Baru mengambil posisi moderat dengan tidak memberikan dukungan penuh, namun menilai operasi militer AS dan Israel dapat mencegah ancaman berkelanjutan dari Iran.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut serangan tersebut sebagai agresi tanpa provokasi terhadap negara berdaulat, sedangkan China mendesak penghentian segera aksi militer serta penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Iran.
Hingga kini, situasi di kawasan Timur Tengah masih berkembang. Tekanan internasional terus meningkat agar seluruh pihak menahan diri dan mengutamakan diplomasi guna mencegah konflik yang lebih luas.












