Mufasyahnews.com, Makassar – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) masih menerapkan tarif tinggi terhadap sejumlah produk ekspor utama Indonesia, seperti garmen, alas kaki, tekstil, furnitur, dan udang.
Dalam konferensi pers virtual, Airlangga menyebut tarif yang dikenakan ke Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara pesaing di Asia, termasuk dari kawasan ASEAN.
“Indonesia mendapatkan tarif masuk lebih tinggi dibandingkan beberapa negara pesaing, baik dari ASEAN maupun non-ASEAN,” ujarnya.
Kebijakan tarif ini sejalan dengan keputusan Presiden AS Donald Trump pada April 2025 yang menaikkan tarif rata-rata impor menjadi 22 persen, tertinggi sejak 1910.
Sektor mebel dan kerajinan juga terdampak, dengan rencana tarif 25 persen untuk produk berbasis kayu, padahal AS menyumbang 53 persen dari ekspor nasional sektor ini.
Sementara itu, tarif anti-dumping untuk produk udang Indonesia ke AS sempat diturunkan menjadi 3,9 persen pada akhir 2024, namun masih dianggap memberatkan.
Pemerintah Indonesia terus mendorong diplomasi perdagangan agar tarif-tarif tersebut dapat diturunkan dan daya saing produk nasional meningkat.












