Mufasyahnews.com, Makassar – Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengungkapkan kemampuan pengangkutan sampah Pemerintah Kota Makassar saat ini baru mampu menjangkau sekitar 67 persen dari total timbulan sampah harian yang mencapai 1.036 ton per hari.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah kota untuk memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak sekaligus mengajak masyarakat mengambil peran aktif dalam menjaga lingkungan melalui langkah sederhana, seperti memilah sampah sejak dari rumah.
“Stop bicara lingkungan kalau kita belum mampu memilah sampah dari rumah kita sendiri,” kata Munafri di Makassar, Minggu.
Pernyataan itu juga disampaikan Munafri saat menghadiri peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 sehari sebelumnya. Menurutnya, persoalan lingkungan saat ini tidak hanya menjadi tantangan daerah, tetapi juga menjadi isu global yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Munafri menjelaskan dunia sedang menghadapi triple planetary crisis atau tiga krisis besar yang saling berkaitan, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi lingkungan. Ketiga persoalan tersebut dinilai memberi dampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, kata dia, penanganan masalah lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dukungan dari masyarakat, komunitas, pelaku usaha, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
“Masih banyak sampah yang belum tertangani. Karena itu kita membangun kolaborasi lintas sektor dan lintas perangkat daerah agar tercipta ekosistem yang mampu menyelesaikan persoalan sampah secara menyeluruh,” ujarnya.
Ia menilai upaya pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya. Kesadaran masyarakat dalam memilah sampah organik dan anorganik menjadi salah satu langkah awal yang dapat membantu mengurangi beban pengelolaan sampah di tingkat kota.
Munafri juga menyoroti pentingnya kesiapan sistem pendukung. Menurutnya, program pemilahan sampah yang telah dijalankan sejumlah komunitas hingga tingkat RT harus didukung pola pengangkutan yang tepat agar sampah yang sudah dipisahkan tidak kembali tercampur saat dibawa ke tempat pengolahan atau pembuangan.
Langkah tersebut, lanjutnya, menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Dengan dukungan infrastruktur dan partisipasi warga, pemerintah berharap volume sampah yang tidak tertangani dapat terus ditekan.
Selain itu, Munafri menegaskan kampanye pengelolaan sampah harus dilakukan secara konsisten dan tidak hanya berlangsung pada momentum peringatan lingkungan semata. Edukasi kepada masyarakat perlu dilakukan secara berkelanjutan agar tumbuh kebiasaan baru yang lebih peduli terhadap lingkungan.
“Kampanye ini tidak boleh berhenti. Masyarakat harus memahami bahwa apa yang kita lakukan hari ini bukan hanya untuk kepentingan saat ini, tetapi untuk masa depan,” katanya.
Pemerintah Kota Makassar berharap kesadaran kolektif masyarakat dalam mengelola sampah dapat menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.












