Mufasyahnews.com, Makassar – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada kehidupan masyarakat di daerah. Selain memengaruhi harga barang impor, kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga berbagai produk elektronik yang banyak digunakan masyarakat.
Sejumlah pedagang di pusat penjualan elektronik Karebosi Link dan MTC Karebosi, Makassar, mengaku terpaksa menyesuaikan harga jual hampir setiap pekan. Kenaikan paling terasa terjadi pada telepon genggam, tablet, dan laptop yang masih bergantung pada komponen impor.
Dampak kenaikan harga itu dirasakan langsung oleh warga. Amalia (30), warga Makassar, mengaku batal membeli tablet Samsung S10 Lite setelah mengetahui harganya melonjak dalam waktu singkat.
Menurut Amalia, saat mengecek harga pada Jumat (5/6), tablet tersebut masih dijual sekitar Rp6,7 juta. Namun dua hari kemudian, tepatnya Minggu (7/6), harga perangkat yang sama naik menjadi Rp8 juta.
“Saya sempat pesan, lalu dikabari kalau harganya naik karena dolar terus menguat. Padahal selisihnya hanya beberapa hari, tetapi kenaikannya lebih dari satu juta rupiah,” kata Amalia, Senin (8/6).
Ia mengatakan para pedagang kini menyarankan konsumen untuk segera membeli perangkat elektronik jika memang sedang dibutuhkan. Pasalnya, harga diperkirakan masih berpotensi naik seiring fluktuasi nilai tukar dolar AS dan meningkatnya biaya produksi global.
“Sekarang disarankan kalau memang ada dana dan sangat butuh, sebaiknya langsung beli karena harga bisa terus naik,” ujarnya.
Kondisi serupa juga disampaikan Nana, salah seorang pegawai toko elektronik di kawasan MTC Karebosi. Ia menyebut tren kenaikan harga mulai terlihat sejak Mei 2026 dan terjadi pada hampir seluruh kategori produk elektronik.
“Naiknya sudah mulai sejak Mei. Yang paling terasa memang telepon genggam karena sekarang menjadi kebutuhan utama masyarakat,” kata Nana.
Selain telepon genggam, kenaikan harga juga terjadi pada tablet, laptop, jam tangan pintar, hingga kartu memori. Besaran kenaikan bervariasi, mulai dari Rp300 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, terutama pada produk yang memiliki permintaan tinggi.
Para pelaku usaha menilai kondisi pasar elektronik saat ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan kurs rupiah terhadap dolar AS. Selama nilai tukar masih berfluktuasi dan biaya impor tetap tinggi, harga produk elektronik diperkirakan akan terus mengalami penyesuaian di tingkat konsumen.












