Mufasyahnews.com, Jakarta – Muhammad Qodari meniti karier dari jalur akademis. Tahun 1997, ia lulus sebagai Sarjana Psikologi Sosial dari Universitas Indonesia (UI). Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan pendidikan ke University of Essex, Inggris, mengambil studi Political Behavior pada jenjang magister yang diselesaikan sekitar 2002.
Tidak berhenti di situ, Qodari meraih gelar doktor Ilmu Politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2016. Disertasinya berjudul “Split-Ticket Voting dan Faktor-Faktor yang Menjelaskannya pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia Tahun 2014” dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.
Di dunia profesional, Qodari mengawali kiprahnya sebagai peneliti di Institut Studi Arus Informasi (ISAI) sejak Mei 1999 hingga September 2001. Setelah itu, ia bergabung dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) sampai Juli 2003. Pada periode yang sama, Qodari juga dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Kandidat dan Campaign and Election Magazine pada 2003–2004.
Kariernya berlanjut di Lembaga Survei Indonesia (LSI), di mana ia menjabat sebagai Direktur Riset pada 2003–2005, kemudian menjadi Wakil Direktur Eksekutif hingga Oktober 2006. Setelah itu, Qodari mendirikan Indo Barometer pada November 2006 dan sampai kini masih menjabat sebagai Direktur Eksekutif.
Nama Qodari semakin dikenal publik ketika aktif dalam relawan Jokowi-Prabowo (Jokpro) sekaligus menyuarakan dukungan terhadap pemerintahan Jokowi. Ia juga pernah mengemukakan gagasan perpanjangan masa jabatan presiden, wacana yang menuai perdebatan luas sekaligus menempatkan dirinya sebagai figur yang diperhitungkan dalam diskursus politik nasional.
Usai Prabowo Subianto dilantik sebagai Presiden, Qodari mendapatkan amanah baru sebagai Wakil Kepala Staf Kepresidenan, mendampingi AM Putranto.











