Mufasyahnews.com, Jakarta – Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya menyampaikan pesan ke publik setelah resmi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada awal konflik besar yang kini meluas di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei menyerukan persatuan nasional masyarakat Iran di tengah situasi perang yang sedang berlangsung. Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap pihak yang dianggap memusuhi Iran.
Mojtaba Khamenei bahkan mengeluarkan peringatan langsung kepada Amerika Serikat terkait kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah.
“Semua pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup atau akan diserang,” kata Mojtaba Khamenei dalam pernyataannya yang dikutip dari Al Jazeera.
Meski demikian, ia menyebut Iran tetap membuka hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangganya. Namun, menurutnya, serangan terhadap instalasi militer Amerika Serikat akan terus berlanjut sebagai bagian dari perlawanan terhadap tekanan terhadap Iran.
Ia juga menyatakan bahwa sejumlah kelompok bersenjata di kawasan akan terlibat dalam konflik tersebut. Kelompok di Yaman disebut akan memainkan peran penting, sementara kelompok bersenjata di Irak juga dinilai siap memberikan dukungan.
Dalam pidato yang sama, Khamenei menyampaikan apresiasi kepada militer Iran yang dinilainya berhasil menjaga keutuhan negara di tengah serangan dari luar.
“Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan pekerjaan besar pada saat negara kita berada di bawah tekanan dan diserang,” ujarnya.
Ia menegaskan Iran akan terus melanjutkan perlawanan dalam menghadapi tekanan militer dari pihak luar.
Latar Belakang Kepemimpinan Baru
Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, meninggal dunia dalam serangan yang terjadi di Teheran pada 28 Februari lalu. Ali Khamenei diketahui memimpin Iran selama 37 tahun.
Serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel tersebut terjadi pada tahap awal konflik besar yang kini meluas di Timur Tengah. Beberapa anggota keluarga Khamenei juga dilaporkan turut menjadi korban dalam serangan tersebut.
Setelah kematian pemimpin tertinggi tersebut, Dewan Ahli Iran pada Minggu mencapai kesepakatan untuk menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerusnya.












