Mufasyahnews.com, Makassar – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyoroti eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang dinilai berpotensi memicu guncangan geopolitik dan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global, termasuk Asia Tenggara.
Pernyataan itu disampaikan AHY usai menghadiri perayaan Imlek Nusantara pada Sabtu (28/2/2026) malam. Ia menyatakan keprihatinannya atas pecahnya kembali konflik bersenjata di Timur Tengah yang bukan hanya menimbulkan risiko kemanusiaan, tetapi juga memperbesar ketidakpastian global.
Menurutnya, kawasan Timur Tengah memiliki posisi strategis sebagai jalur utama energi dan perdagangan dunia. Ketidakstabilan di wilayah tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok internasional, memicu lonjakan harga energi, serta menekan pasar keuangan global.
“Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan konflik, tetapi juga terhadap keamanan dan stabilitas dunia secara keseluruhan, termasuk Asia Tenggara,” ujar AHY.
Ia menegaskan Indonesia perlu melakukan langkah antisipasi dan mitigasi untuk meminimalkan efek lanjutan terhadap sektor-sektor strategis nasional.
Salah satu sektor yang dinilai rentan terdampak adalah transportasi udara. Sejumlah penerbangan dari Indonesia menuju Jeddah, Arab Saudi, dilaporkan dibatalkan menyusul meningkatnya risiko keamanan di wilayah udara Timur Tengah. AHY menyebut faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama maskapai dalam menentukan rute penerbangan di tengah situasi konflik, terutama dengan potensi penggunaan misil jarak jauh.
Selain transportasi, sektor energi global juga dinilai berisiko mengalami tekanan. Gangguan keamanan di kawasan penghasil minyak dan gas utama dunia dapat memicu kenaikan harga energi yang berdampak luas terhadap perekonomian berbagai negara.
AHY memastikan pemerintah terus memantau perkembangan situasi dan melakukan koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas nasional. Ia berharap konflik segera mereda agar tidak berkembang menjadi eskalasi yang lebih luas dan memperburuk kondisi kemanusiaan serta ekonomi global.












