Mufasyahnews.com, Makassar – Harga oli mesin dan suku cadang kendaraan bermotor mengalami kenaikan di sejumlah daerah di Indonesia. Kenaikan tersebut diduga dipengaruhi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang berdampak pada biaya impor.
Pantauan di salah satu bengkel resmi Yamaha di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menunjukkan harga oli mesin untuk Yamaha N-Max mengalami kenaikan dari Rp75 ribu menjadi Rp86 ribu. Kenaikan juga terjadi pada oli gardan yang sebelumnya dijual Rp20 ribu, kini menjadi Rp22 ribu.
Tidak hanya di bengkel resmi, kenaikan harga juga dirasakan pada sejumlah spare part dan oli di bengkel UMKM.
“Naiknya baru-baru ini, sejak bulan Mei,” ujar salah satu petugas bengkel kepada fajar.co.id, Rabu (20/5/2026).
Kondisi serupa dialami Zulkifli Syukur, mekanik alat elektronik di Makassar. Ia mengaku harga injector motor Honda Scoopy ESP FI 2016 yang sempat dicek pada April 2026 mengalami kenaikan pada Mei.
“Bulan lalu sempat mau beli injector motor Scoopy ESP FI 2016. Harganya bulan April Rp258 ribu di bengkel resmi Honda Toddopuli,” kata Zul.
Namun saat hendak membeli pada Mei 2026, harga suku cadang tersebut naik menjadi Rp262 ribu.
“Mei naik sekitar Rp4 ribu,” tambahnya.
Pengamat ekonomi, valuta asing, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dapat berdampak luas terhadap kenaikan harga barang di pasar, terutama produk yang bergantung pada impor.
Pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah 35 poin ke level Rp17.703 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat turun hingga 70 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.680 per dolar AS.
“Kondisi pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya impor karena mayoritas transaksi dilakukan menggunakan dolar AS,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan fenomena imported inflation atau inflasi impor, yakni tekanan inflasi yang terjadi akibat pelemahan kurs rupiah dan tingginya ketergantungan terhadap barang impor.
Ia menjelaskan, kenaikan biaya impor tidak hanya memengaruhi bahan baku, tetapi juga produk olahan yang digunakan masyarakat sehari-hari. Selain itu, biaya produksi turut terdorong oleh kenaikan ongkos energi, distribusi, kemasan, dan logistik.
“Tekanan kurs terhadap harga pangan olahan biasanya lebih cepat terasa dibandingkan komoditas mentah,” pungkas Ibrahim












