Mufasyahnews.com, Jakarta – Kecelakaan kereta api melibatkan Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden ini mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan data terbaru yang disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, hingga Selasa (29/4/2026) pukul 11.00 WIB, total korban mencapai 106 orang. Rinciannya, 90 orang mengalami luka-luka, dengan 44 orang telah diperbolehkan pulang dan 46 lainnya masih dalam observasi medis.
Peristiwa ini bermula dari gangguan di perlintasan sebidang JPL 85, Jalan Ampera, Bekasi Timur. Sebuah taksi online dilaporkan mengalami kerusakan saat melintas di rel, sehingga terhenti dan menghambat perjalanan KRL relasi Bekasi–Cikarang.
Akibat hambatan tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena keluar dari jadwal operasional. Dampaknya, satu rangkaian KRL lain dengan kode PLB 5568 yang menuju Cikarang dihentikan di peron Stasiun Bekasi Timur.
Tak lama berselang, kereta api Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya melintas dan tidak sempat berhenti sepenuhnya. Kereta tersebut kemudian menabrak rangkaian KRL PLB 5568 yang sedang berhenti di peron.
Menurut Budi, terdapat dua rangkaian peristiwa dalam insiden ini, yakni gangguan awal akibat taksi online di perlintasan rel dan tabrakan lanjutan antara kereta Argo Bromo Anggrek dengan KRL. Ia menyebut gangguan pertama diduga menjadi pemicu terjadinya kecelakaan berikutnya yang berujung pada korban jiwa dan kerugian materi.
Pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan terhadap kedua kejadian tersebut. Hingga kini, sebanyak 22 saksi telah diperiksa untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan.
Proses penyelidikan dan penanganan korban masih terus dilakukan oleh pihak berwenang.












