Mufasyahnews.com, Makassar – Pemimpin Gereja Katolik dunia, Paus Leo XIV, menegaskan tidak akan terlibat perdebatan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meski mendapat kritik keras terkait sikapnya terhadap konflik global, khususnya perang antara Amerika Serikat dan Iran. Paus menegaskan akan tetap fokus menyuarakan perdamaian di tengah meningkatnya ketegangan internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Paus Leo kepada wartawan di pesawat kepausan pada Senin (13/4/2026). Ia menegaskan tidak berniat menanggapi kritik Trump secara langsung. Menurutnya, pesan yang ia bawa tetap sama, yakni mendorong perdamaian dan mengakhiri peperangan.
“Saya tidak berniat untuk berdebat dengannya. Pesannya tetap sama: mempromosikan perdamaian,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dirinya bukan seorang politisi dan tidak ingin terlibat dalam polemik politik.
Meski demikian, Paus memastikan akan terus bersuara lantang menentang perang di berbagai belahan dunia. Ia menilai konflik global telah menyebabkan penderitaan luas, termasuk jatuhnya korban dari kalangan sipil yang tidak bersalah. Karena itu, ia menekankan pentingnya dialog dan kerja sama multilateral antarnegara untuk mencari solusi yang adil dan damai.
Paus juga mengingatkan agar ajaran Injil tidak disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Ia menegaskan kembali bahwa misinya adalah menyampaikan pesan damai, bukan berdebat secara politik.
Sebelumnya, Trump melontarkan kritik tajam terhadap Paus Leo XIV setelah seruan anti-perang disampaikan saat konflik di Iran pecah pada 28 Februari lalu. Trump menyebut Paus terlalu liberal dan menganggapnya lemah dalam isu kebijakan luar negeri dan keamanan.
Menanggapi hal itu, Paus Leo kembali menegaskan posisinya sebagai pemuka agama, bukan aktor politik. Ia menekankan bahwa pesan yang dibawanya adalah nilai-nilai Injil, termasuk ajakan untuk menjadi pembawa damai.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam perjalanan menuju Aljazair sebagai bagian dari rangkaian kunjungan selama 10 hari ke empat negara di Afrika. Kunjungan ini, menurut Paus, menjadi momentum penting untuk mendorong dialog, rekonsiliasi, serta memperkuat rasa saling menghormati antarbangsa.












