Mufasyahnews.com, Makassar – Hiruk pikuk kehidupan ini tidak jarang menampar kita pada banyak pelajaran. Bahwa kegagalan demi kegagalan yang pernah tumbuh dan terhimpun dalam potret perjalanan akan mengajarkan ; tidak ada satu orang pun yang bisa bangkit kecuali pernah terjatuh dan gagal berkali-kali. Jika Buya Hamka pernah bertutur bahwa hanya orang-orang yang pernah memanjatlah yang pernah merasakan jatuh. Demikianlah kehidupan ini, berulang kali kita berjuang di samudera mimpi yang indah dan terdampar di sejumlah kegagalan-kegagalan, namun antusiasme untuk terus berjuang tetap benderang di relung jiwa. Mengapa? Yah!.. karena nyali kita tidak begitu kerdil untuk menyerah dengan kondisi apapun yang terjadi. 6 Juni 2025.
Lima tahun yang lalu, ketika dunia geger dengan luka pengangguran yang melonjak besar. Situasi pandemi Covid-19 yang menghimpit justru mencairkan nalar kita untuk mengasah potensi dari hal-hal yang tak mungkin terjadi, pada akhirnya terealisasi. Fenomena work from home yang muncul lalu menjadi inovasi dan trend masyarakat tak dapat lagi dihindari bahkan kini dianggap sesuatu yang menarik dan berbeda dari yang mainstream.
Perjumpaan-perjumpaan kita dengan berbagai voltase hidup yang naik-turun ini memungkinkan untuk terus berkembang ke arah yang lebih baik. Merasakan cuatnya tegangan sebagai ‘nilai kehidupan’. Saat dihimpit berbagai kondisi hingga terus ditantang dengan segudang ketidaknyamanan hidup yang silih berganti. Diantara kita akan ada yang terus memilih untuk menabung kelelahan demi kelelahan demi kesuksesan di depan mata. Wajarkah itu terjadi?
Tidak sedikit orang-orang besar lahir dari elegi sejarah yang panjang dan fatal. Bertarung dengan segala ketidaknyamanan ambisi, visi dan obsesi. Thomas Alva Edison, tidak tiba-tiba menemukan lampu pijar itu, karena ada 9.998 kali uji oba yang harus ditaklukkan. Nabi Nuh bertarung selama 950 tahun mendakwahkan ajarannya tanpa pengikut mengurasa emosi dan tenaga ditengah riuhnya umat yang zalim. Banyak orang-orang yang takjub pada kilaunya mutiara indah, namun lupa bahwa mutiara di dasar laut itu harus dibayar mahal dengan waktu, tenaga hingga nyawa yang beradu.
Jika ada sebuah pepatah yang menyebutkan bahwa kesuksesan-kesuksesan yang kita mimpikan, mewajibkan adanya kelelahan sebagai tumbalnya. Maka, spirit JNE membuktikan bahwa tidak ada pertumbuhan didalam zona nyaman dan juga sebaliknya tak akan ditemukan kenyamanan di dalam zona pertumbuhan bagi mereka yang terus ingin menyalakan api kesuksesan. 34 tahun yang lalu, JNE bertarung dengan dirinya sendiri. Meniadakan pesimisme, menjulurkan keberanian dengan menjawab kebutuhan masyarakat yang terus bertransformasi, mengambil peran dan ruang berkontribusi dalam akses pemberian jasa pengiriman lintas daerah dan kota yang autentik.
Sebuah pertunjukan eksistensi jasa yang tidak muncul tiba-tiba, berproses puluhan tahun hingga akhirnya mengintegrasikan semua potensi yang tersedia dengan terus menjawab tantangan dan persoalan masyarakat berbasis pelayanan jasa pengirimannya yang satset. Obsesi itu bukan sekedar ambisi belaka, melainkan sebuah harapan tanpa batas yang terus melesat jauh dan dikendalikan oleh semangat konsisten dan persisten.
Menunjukkan bahwa JNE terus berdikari , eksis berbagi kebahagiaan di masyarakat bukan hanya di kota tetapi juga di pelosok desa. JNE akan terus berkontribusi menjawab kebutuhan-kebutuan masyarakat yang hidup di era transformasi digital, dan dengan bangga terus tampil memberi kemudahan dan pelayanan prima yang bertanggungjawab hingga kemudian setiap barang yang dinanti jutaan rakyat itu bisa hadir di didepan mata mereka masing-masing.
Maka, teruslah nyalakan semangat melayani dengan hati, Satset JNE jadikan masyarakat aman dan bahagia bersama JNE.
Penulis : Fauziah Ramdani
Sumber Berita : Fauziah Ramdani












