Mufasyahnews.com, Makassar – Ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat setelah Iran diduga memasang ranjau laut di jalur strategis Selat Hormuz, salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Berdasarkan laporan intelijen Amerika Serikat, puluhan ranjau disebut telah ditempatkan di perairan tersebut dalam beberapa hari terakhir. Meski belum dilakukan secara besar-besaran, langkah ini dinilai berpotensi mengancam jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global setiap hari.
Mengutip CNN International, aktivitas tersebut berada di bawah kendali Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) bersama angkatan laut Iran. IRGC memiliki kemampuan militer berupa kapal penebar ranjau, kapal bermuatan bahan peledak, serta sistem rudal pertahanan pantai yang dapat menekan kapal yang melintas.
IRGC sebelumnya juga memperingatkan bahwa kapal yang melintasi Selat Hormuz berpotensi menjadi target serangan di tengah meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Ketegangan tersebut berdampak pada aktivitas pelayaran di kawasan itu. Sekitar 300 kapal tanker minyak dan kapal kontainer dilaporkan tertahan di kedua sisi Selat Hormuz.
Situasi ini memicu gejolak di pasar energi global. Harga minyak dunia jenis Brent Crude Oil dilaporkan melonjak sekitar 10–13 persen pada awal eskalasi konflik.
Kenaikan harga energi mulai dirasakan sejumlah negara. Di Filipina dan Bangladesh, pemerintah mengambil langkah penghematan energi setelah terjadi lonjakan harga bahan bakar dan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.
Situasi ini membuat banyak negara memantau perkembangan konflik di Timur Tengah karena stabilitas Selat Hormuz berperan penting terhadap pasokan energi dunia.












