Mufasyahnews.com, Makassar – Sebanyak 200 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra Ilmu Komunikasi dan Pendidikan (FSIKP) UMI, sepakat menjadikan momentum Hari Kebangkitan Nasional sebagai hari kebangkitan literasi.
Disela-sela acara workshop “Digital Literacy Boothcamp” dengan tema lawan misinformasi, kuasai etika dan keamanan digital di era AI, Rabu (21/5), peserta workshop dideklarasikan komunitas literasi digital di lingkup kampus UMI.
Ketua prodi komunikasi – Dr Zelfia, M,Si mengatakan misinformasi dan disinformasi telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat digital. Dimana kelompok usia muda termasuk mahasiswa menjadi salah satu yang paling rentan terpapar hoaks.
“Banjir informasi tanpa disertai kemampuan literasi digital yang memadai justru menimbulkan berbagai masalah, seperti maraknya penyebaran misinformasi, disinformasi dan hoaks,” ujarnya.
Olehnya itu, prodi ilmu komunikasi UMI menjadi garda terdepan bersama mahasiswa dalam melawan misinformasi, disinformasi dan hoaks.
Kepala Laboratorium Komunikasi Multimedia FSIKP UMI – Muhammad Idris, M.I.Kom dalam paparannya menjelaskan bahwa selain persoalan hoaks, kemunculan kecerdasan buatan artificial intelligence/AI dalam dunia pendidikan juga menimbulkan tantangan baru.
Namun, tanpa pemahaman etis, mahasiswa berisiko tergantung pada AI hingga melakukan plagiarisme, mengurangi daya kritis, atau bahkan menyebarkan output AI yang bias dan tidak akurat.
Idris berharap, penting bagi mahasiswa memahami bagaimana memanfaatkan AI secara bertanggung jawab, termasuk cara mengevaluasi sumber, memverifikasi data, dan menggunakan teknologi ini sebagai alat bantu bukan pengganti pemikiran mandiri.
Hal sama diungkapkan Izki Fikriani Amir, M.I.Kom – Dosen Ilmu Komunikasi dan pegiat literasi. Baginya, persoalan etika digital juga menjadi hal mutlak dimiliki. Kehadiran AI diakui sangat membantu proses pembelajaran dalam dunia akademik. Hanya saja harus dilandasi standar moralitas dan etika bertanggungjawab dalam penggunaannya.
“Teknologi AI tidak bisa dihindari, ia bisa menjadi alat bantu efektif bagi mahasiswa dalam proses pembelajaran. Tetapi bukan pengganti proses belajar itu sendiri,” Jelasnya.
Sementara pembicara dari Mafindo Makassar – Hamsar Hasfat, M.Pd menekankan soal aspek keamanan digital. Sebagai pengguna aktif internet seringkali tidak menyadari risiko keamanan data pribadi, seperti phishing, scam, atau kebocoran informasi.
Banyak dari masyarakat masih menggunakan kata sandi yang lemah, mengklik tautan mencurigakan, atau membagikan data sensitif di platform yang tidak aman. Padahal, kejahatan siber terus meningkat, dengan modus yang semakin canggih.
Materi tidak saja tentang teori, tetapi melalui pendekatan interaktif, simulasi praktis, seperti workshop identifikasi hoaks dan demo pengamanan akun.
Sejumlah mahasiswa berharap ini bukan sekedar kegiatan insidental, tetapi menjadi awal dari bangkitnya komunitas literasi digital di lingkungan kampus UMI.
Kegiatan ini dianggap sebagai investasi pengetahuan membentuk mahasiswa yang cerdas, kritis, dan adaptif menghadapi tantangan digital masa depan.












