Mufasyahnews.com, Makassar – Universitas Muslim Indonesia (UMI) memperkuat jajaran intelektualnya dengan mengukuhkan dua guru besar baru dari Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP).
Keduanya adalah Prof. Dr. H. Muliadi, M.Hum., dan Prof. Dr. Muh. Yunus, M.Pd., yang dikukuhkan dalam bidang literasi dan kritik sastra.
Pengukuhan berlangsung dalam sidang terbuka Senat Guru Besar UMI di Auditorium Al Jibra, Rabu (24/12).
Dengan penambahan ini, jumlah guru besar aktif di UMI kini mencapai 114 orang, mengukuhkannya sebagai perguruan tinggi swasta dengan guru besar terbanyak di Indonesia.
Ketua Dewan Guru Besar UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramli, SE., M.Si., dalam sambutannya menyatakan kebanggaan atas capaian ini. Ia menekankan pentingnya mengembangkan epistemologi keilmuan yang berlandaskan Islam sebagai penguatan identitas kampus.
“Belajar adab dahulu sebelum belajar pengetahuan. Di negeri ini, adab harus menjadi etalase kehidupan,” pesannya.
Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, SH., MH., dalam sambutannya menegaskan bahwa pengukuhan guru besar ini mengajak semua sivitas akademika untuk introspeksi dan menggali makna kehidupan melalui sastra dan literasi.
“Melalui ilmu sastra dan literasi, terkadang jauh lebih menyentuh kesadaran dibanding sekadar teguran dan aturan,” ujarnya.
Kepala LLDIKTI Wilayah IX, Dr. Andi Lukman, M.Si., yang hadir dalam acara tersebut, menyebut pengukuhan ini sebagai kebanggaan kolektif. Ia menegaskan bahwa guru besar bukan hanya puncak karier, tetapi juga amanah besar untuk menjadi teladan dan agen perubahan.
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr H Muliadi, M.Hum menyampaikan orasi berjudul “Teks Puisi sebagai Rujukan Merunut dan Memaknai Nilai Sosial yang Telah Termumifikasi: Kajian Hermeneutika Nilai Religius dan Nilai Kearifan Alam Puisi”.
Ia mendemonstrasikan bagaimana pendekatan hermeneutika dapat mengungkap nilai-nilai luhur yang terpendam dalam teks puisi.
Sementara itu, Prof. Dr Muhammad Yunus, M.Pd dalam pidato bertajuk “Meningkatkan Kemahiran Menulis Paragraf di Era Global: Sebuah Perspektif Keilmuan, Keislaman dan Kontribusi Peradaban”, menyoroti tantangan literasi di perguruan tinggi.
Ia menawarkan integrasi perspektif keislaman dengan pedagogi literasi untuk menjawab tantangan menulis mahasiswa di era global.












