Oleh: Dr. Abd. Majid, S.Sos.I., M.Si
Wakil Dekan III Bidang Kemahaiswaan dan Alumni Fakultas Sastra UMI
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra UMI
Mufasyahnews.com, Makassar – Ramadan momen yang dinanti kehadirannya namun ditangisi kepergiannya, bagaimana sikap memaknai kebersamaan Ramadan sangat tergantung pada kadar keimanan dan ilmu yang dimiliki terkait dengan keutaamaan dan faedah yang ada didalamnya.
Terbesit dalam hati orang yang beriman wahai engaku yaa Ramadan, serasa begitu cepatnya berlalu meninggalkan kami, ibadah kami belum cukup untuk mengisi kemulianmu. Semoga engkau yaa Sayyidu Syuhur (penghulu bulan) dirahmati di dunia dan di akhirat menjadi saksi atas ibadah yang dipersembahkan untuk mengapai Ridho Allah SWT.
Semakin berakhir Ramadan maka pesan spiritualnya juga semakin menggaliat, namun tantangan yang dihadapi orang berpuasa juga semakin ramai pada aspek eksternal seperti persiapan hidangan berbuka puasa, tradisi kumpul-kumpul, belanja persiapan lebaran dan arus mudik sehingga yang terjadi ditengah panggilan itikaf untuk bermuhasabah di masjid, ternyata kampanye untuk tawwaf disekitar mall, pasar, toko dan terminal juga semakin ramai, tradisi ini terjadi setiap tahunnya.
Momen 10 hari terakhir Ramadan sebagai babak semi final yang mengantarkan umat Islam menjadi finalis bagi yang Istiqomah hingga di akhir dan yang kuat keimanannya dalam beramaliah. Anjuran Nabi Muhammad SAW bahwa ketika ramadan akan berakhir maka kencangkan ikat pinggang untuk beritikaf, berzikir, berdoa, salat malam di Masjid mengejar malam kemuliaan karena godaan juga semakin kencang.
Keutamaan ini ditegaskan dalam QS. Al-Qadr Ayat 1-5 “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rµh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan, Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar”.
Magnet malam laitul qadar yang lebih baik daripada beribadah 1000 bulan atau kurang lebih selama 85 Tahun lamanya, dikampanyekan dalam dakwah di masjid, muhollah dan organisasi agar umat manusia terus semangat ibadah, tidak tergoda untuk kepentingan sementara apalagi waktu untuk beribadah terus bejalan dan akan berakhir.
Di akhir Ramadhan ini terjadi gejolak yang terus berjalan dari tahun-ketahun, pengalaman spiritual yang luar biasa dalam diri sorang mukmin membumikan spirit puasa dan lailatul qadar untuk mendapatkan kecerdasan spiritual dalam mengendalikan diri dalam mengadapi setiap masalah dan ujian didepan mata disinilah nilai spiritual problem solving akan didapatkan oleh seseorang.
Spritulitas semakin tampak apakah rohani manjadi Imam membimbing jasmani untuk selalu bergantung pada Allah? Karena ketika ditanya sesuatu yang paling banyak menerumuskan manusia kedalam siksa neraka? Nabi menjawab ada dua adalah Alfamu walfarju (Perut dan dibawah perut) (HR Tirmidzi). Kemampuan mengendalikan nafsu perut pada materialisme dan dibawah perut alias kemaluan pada hedonisme menjadi buntuk keberhasilan orang yang berpuasa.
Pesan puasa mengajarkan senstifitas mukminin berubah level menjadi muttaqin, mukhlisin muhsinin dari beramal karena keterpaksaan, kewajiban, kebutuhan dan kecintaan dalam bertaqarrub kepada Allah Swt. Totalitas dalam ibadah kemampuan mengendalikan diri dalam merespon lingkungan materialism dan hedosnisme yang tidak akan terperdaya, namun keteguhan hati dan kefaqihan finalis Ramadan menjadi komitmen dalam iman, ilmu dan amal dalam hidupnya.
Sehingga puasa menjadi solusi yang membahagiakan sebagaimana sabda Rasulullah SAW “dua kebahagiaan yang didapatkan oleh orang yang puasa, yaitu kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabb-Nya” (HR Muslim).
Level Muhsinin adalah kesalehan diri dan sosial melahirkan perilaku kedermawanan baik pada posisi kaya maupun miskin mampu melawan egonya yang tidak lagi bergantung pada pada harta, jabatan dan kekuasaan yang dimiliki.
Sikap berbuat baik untuk terus berbagi, kepedulian dari panggilan hati yang merasakan hidup dalam kekurangan. Inilah mengapa puasa Ramadan didalamnya terdapat momen mensucikan diri dengan bertaubat dan mengeluarkan zakat fitrah sebagai pembersih puasa yang didalamnya pada perkataan yang sia-sia.
Pesan sosial puasa adalah kepedulian terhadap sesama, kesabaran dan pengendalian diri, ketaatan dan ibadah, pemberdayaan masyarakat berkonstribusi dalam membangun masyarakat melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, seperti Zakat, Infaq, Sadaqah untuk kegiatan sosial atau program pembinaan masyarakat.
Kesadaran Lingkungan, solusi yang mencerahkan persoalan bangsa, Potensi ibadah umat Islam di momen ini bersinergi menata spritualitas dengan solusi spirit puasa menapaki dengan pesan penting menjadi manusia yang terbaik yaitu kehadirannya memberi manfaat kepada sesama manusia. Disadur dari berbagai sumber.