Mufasyahnews.com, Jakarta – Prabowo Subianto menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan bentuk intervensi langsung negara untuk mengatasi persoalan gizi dan kemiskinan anak di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam Taklimat Awal Tahun pada agenda retret Kabinet Merah Putih, Selasa (6/1/2026).
Prabowo menyampaikan bahwa program MBG telah dicanangkan sejak awal masa pemerintahannya setelah pemerintah melihat kondisi gizi anak-anak Indonesia yang masih memprihatinkan. Berdasarkan berbagai kajian, sekitar 20 persen anak Indonesia atau satu dari lima anak mengalami kekurangan gizi.
Di sejumlah daerah, lanjut Prabowo, angka tersebut bahkan melebihi 30 persen, termasuk kasus malnutrisi dan stunting yang berdampak pada lemahnya kondisi fisik serta pertumbuhan anak yang tidak normal.
“Itu jelas yang dikatakan malnutrisi, stunting, badannya sangat lemah, pertumbuhannya tidak normal,” ujar Prabowo.
Ia juga mengungkapkan bahwa puluhan juta anak Indonesia berangkat ke sekolah tanpa makan pagi. Dalam banyak kondisi, asupan makanan mereka hanya berupa nasi dengan lauk yang sangat terbatas.
Kondisi tersebut, menurut Prabowo, menuntut kehadiran negara melalui kebijakan yang bersifat langsung. Pemerintah kemudian mempelajari berbagai praktik serupa di sejumlah negara sebelum meluncurkan Program Makan Bergizi Gratis.
Program MBG resmi dijalankan pada 6 Januari 2025. Hingga 6 Januari 2026, atau setelah satu tahun pelaksanaan, program tersebut telah menjangkau sekitar 55 juta penerima manfaat.
Prabowo membandingkan capaian tersebut dengan Brasil yang, menurutnya, membutuhkan waktu hingga 11 tahun untuk menjangkau 40 juta penerima manfaat. “Kita satu tahun mencapai 55 juta penerima manfaat,” katanya.
Meski demikian, Prabowo mengakui pelaksanaan program berskala besar tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Ia menyebut potensi kekurangan hingga penyimpangan tetap ada dalam implementasi MBG.
“Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan dan penyimpangan,” ujarnya.












