Buruh Desak Revisi UMP DKI Jakarta, Nilai Upah Tak Seimbang dengan Biaya Hidup

- Admin

Rabu, 28 Januari 2026 - 15:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mufasyahnews.com, Jakarta  – Kelompok perwakilan buruh kembali menggelar aksi unjuk rasa untuk menuntut perbaikan upah minimum provinsi (UMP), khususnya di DKI Jakarta. Mereka menilai besaran UMP saat ini belum mencerminkan kebutuhan hidup layak di ibu kota.

Ketua Partai Buruh, Said Iqbal, menyebut UMP DKI Jakarta sebesar Rp5,73 juta masih terlalu rendah dan tidak sebanding dengan tingginya biaya hidup masyarakat. Karena itu, ia mendesak Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk segera merevisi kebijakan tersebut.

Said mengusulkan agar UMP DKI dinaikkan menjadi Rp5,89 juta atau bahkan lebih dari Rp6 juta per bulan. Menurutnya, angka tersebut mendekati 100 persen kebutuhan hidup layak (KHL) bagi pekerja di Jakarta.

“Bank Dunia menyampaikan pendapatan per kapita penduduk DKI mencapai 28 juta rupiah per bulan. Sementara upah minimum hanya 5,73 juta rupiah. Artinya, pekerja di Jakarta seolah hanya mampu bertahan hidup tujuh hari,” ujar Said dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026)

Ia juga membandingkan UMP Jakarta dengan daerah penyangga seperti Bekasi dan Karawang yang dinilai memiliki besaran upah lebih tinggi. “Masa Jakarta kalah dengan Bekasi dan Karawang?” katanya.

Apabila revisi UMP tidak dilakukan, Said meminta Presiden Prabowo Subianto menggunakan diskresinya untuk mendorong pemerintah daerah memberikan subsidi upah sebesar Rp200 ribu per orang setiap bulan.

Menurut Said, kenaikan upah atau subsidi tersebut bertujuan meningkatkan daya beli masyarakat. Ia meyakini peningkatan daya beli akan mendorong konsumsi, mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta membuka lebih banyak lapangan kerja.

“Ketika ekonomi tumbuh dan penyerapan tenaga kerja meningkat, maka potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) dapat ditekan,” ujarnya.

Aksi buruh ini menjadi bagian dari tekanan publik agar pemerintah daerah dan pusat meninjau ulang kebijakan pengupahan, khususnya di wilayah dengan biaya hidup tinggi seperti DKI Jakarta.

Berita Terkait

TPNPB Klaim Serang Rombongan Freeport di Papua, Satu Prajurit TNI Gugur dan Dua Senjata Dirampas
Pesawat Tempur TNI F-16 dan Super Tucano Mendarat di Jalan Tol Lampung
Gubernur Sulsel Mulai Pembangunan Jalan Multiyears Rp274 Miliar, Empat Daerah Terhubung 209 Kilometer
Ketua DPRD Makassar Kunjungi Tribun Timur, Dukung Perayaan HUT ke-22
Munafri Rombak Besar Birokrasi Makassar 109 Pejabat Dilantik Hampir Seluruh Camat Berganti
27 Daerah Pascabanjir Sumatera Pulih Pemerintah Fokus 10 Wilayah Kritis
Pemprov Sulsel Gelar Jalan Sehat Anti Mager Peringati Bulan K3 Nasional 2026
Mensos Prihatin Kasus Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 17:03 WITA

TPNPB Klaim Serang Rombongan Freeport di Papua, Satu Prajurit TNI Gugur dan Dua Senjata Dirampas

Rabu, 11 Februari 2026 - 16:43 WITA

Pesawat Tempur TNI F-16 dan Super Tucano Mendarat di Jalan Tol Lampung

Selasa, 10 Februari 2026 - 15:24 WITA

Gubernur Sulsel Mulai Pembangunan Jalan Multiyears Rp274 Miliar, Empat Daerah Terhubung 209 Kilometer

Senin, 9 Februari 2026 - 18:18 WITA

Ketua DPRD Makassar Kunjungi Tribun Timur, Dukung Perayaan HUT ke-22

Jumat, 6 Februari 2026 - 16:55 WITA

Munafri Rombak Besar Birokrasi Makassar 109 Pejabat Dilantik Hampir Seluruh Camat Berganti

Jumat, 6 Februari 2026 - 14:53 WITA

27 Daerah Pascabanjir Sumatera Pulih Pemerintah Fokus 10 Wilayah Kritis

Kamis, 5 Februari 2026 - 18:12 WITA

Pemprov Sulsel Gelar Jalan Sehat Anti Mager Peringati Bulan K3 Nasional 2026

Rabu, 4 Februari 2026 - 14:49 WITA

Mensos Prihatin Kasus Siswa SD di NTT Diduga Bunuh Diri karena Tak Mampu Beli Buku

Berita Terbaru