Membumikan Komunikasi Profetik Di Ruang Maya

- Admin

Jumat, 21 Maret 2025 - 15:02 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Muhammad Idris

Dosen Ilmu Komunikasi FSIKP UMI

Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya, Pegiat Literasi Media Digital  

Mufasyahnews.com, Makassar – Dalam sebuah webinar bertajuk ‘Majelis Komunikasi’ yang digelar Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) beberapa waktu lalu, ada pernyataan menarik untuk diulas.

Dalam webinar yang menghadirkan Guru Besar Universitas Padjajaran, Profesor Deddy Mulyana, menyampaikan hipotesisnya bahwa kehadiran platform media sosial lebih banyak mendatangkan mudhorat dibanding manfaat.

Hipotesis ini didasari dengan melihat banyaknya konten yang punya potensi daya rusak tinggi dibanding konten yang bermanfaat bagi pengembangan soft skill dan sumber daya khususnya bagi generasi muda. Masyarakat mau melakukan apa saja dan menghabiskan waktunya demi viral dan masuk dalam For You Page (FYP). Bahkan mereka gemar membuat konten yang melanggar norma dan etika yang berlaku.

Jika dikaji lebih jauh, hipotesis ini mungkin benar adanya. Kehadiran media sosial diibiratkan sebagai ‘Dewa Janus’ dalam mitologi Yunani. Dewa yang memiliki dua wajah, mencerminkan wajah baik dan buruk. Media Sosial bisa menghadirkan kebaikan, tetapi disisi lain bisa juga dapat menyebabkan keburukan seperti kebencian, informasi hoaks serta konten yang tidak bermanfaat bahkan menipu dan mengadu domba masyarakat.

Hakekatnya media sosial hadir untuk mendidik dan mencerahkan. Dimana standar norma dan etika di dunia maya harus sama dengan di dunia nyata. Namun yang terjadi, seringkali berbeda. Misalnya soal gibah, fitnah, menghina atau mencela sampai perundungan seolah menjadi hal biasa dilakukan banyak orang di media sosial.

Padahal di dunia nyata, ini sebuah pelanggaran etika dan moral. Al-Qur’an Surat Al-Hujurat Ayat 11 secara jelas mengatur bahwa kita dilarang mengolok-olok, mencela atau merendahkan orang lain. Terlebih di bulan Ramadan sebagai bulan paling baik melakukan refleksi diri. Tidak saja dalam konteks spiritual tetapi juga dalam aspek sosial dan komunikasi.

Komunikasi Profetik Membangun Peradaban

Jika tanpa sikap kritis dan daya analisis yang baik, masyarakat rentan terperangkap dalam arus informasi menyesatkan. Olehnya, kita diharapkan menggunakan media sosial secara bertanggungjawab. Mulai dari segi durasi, frekuensi maupun konten yang diproduksi. Kita juga harus rajin melakukan Tabayyun atau verifikasi atas setiap informasi yang diterima.

Contoh menarik datang dari Negara Swedia. Negara tersebut mendorong para pelajarnya kembali memakai telepon genggam jaman dulu (jadul) yang fungsinya hanya untuk sms dan berkomunikasi dasar. Langkah ini ditempuh, karena media sosial dinilai telah menurunkan kualitas pendidikan negeri ini.

Smartphone dianggap membuat kemampuan analisis pelajar lemah, daya kritis tumpul, kemampuan literasi mereka menurun dan otak mereka kurang daya imajinasi. Ini terjadi karena mereka sangat bergantung terhadap gadget. Padahal, sikap kritis dan kemampuan analisis sangat diperlukan agar terhindar dari brainwash, provokasi dan adu domba pihak tertentu.

Di Tengah gempuran arus teknologi digital yang tidak bisa dibendung, disinilah letak perlunya kehadiran komunikasi profetik sebagai konsep yang sangat relevan dan mendesak diterapkan. Sebuah pola komunikasi kenabian yang mencontoh perilaku Rasulullah Muhammad SAW yang sarat nilai etika, moral, toleransi, kelembutan dan kemurahan hati.

Kehadiran komunikasi profetik sebagai sebuah strategi membangun karakter manusia unggul dan bukan sekedar teori. Bentuk komunikasi ini mengajak untuk bertanggungjawab tidak hanya kepada diri sendiri tetapi juga bertanggungjawab secara sosial. Bagaimana memberi contoh nyata dalam bentuk perilaku, akhlak mulia dan sikap keteladanan.

Komunikasi profetik membantu kita menyeru pada kebaikan tanpa menghina, apalagi melakukan perundungan. Ia mengajarkan cara menasehati dan mengedukasi tanpa mempersekusi orang lain. Ini sangat relevan jika merujuk kondisi saat ini, dimana informasi palsu marak terjadi.

Komunikasi profetik juga mengajak kita membangun hubungan harmonis dengan sesama manusia terlebih kepada Sang Maha Pencipta. Mengajarkan kita untuk selalu berkomunikasi penuh kelembutan, toleransi, dan kemurahan hati. Di era digital yang penuh tantangan ini, komunikasi profetik harus jadi pedoman membangun peradaban yang lebih baik.

Terlebih di bulan Ramadan, dimana kita tidak hanya mampu menahan lapar dan dahaga, tapi juga harus bisa menahan diri dari perkataan dan perbuatan tidak berfaedah, termasuk mampu menyebarkan pesan inspiratif dan konten bermanfaat.

Bulan Ramadan harus jadi momentum merefleksikan cara kita berkomunikasi. Menyebarkan kebaikan dan menggunakan media sosial secara bijak adalah langkah nyata membumikan nilai-nilai komunikasi profetik.

Semoga di bulan Ramadan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan bermanfaat. Dengan terus berkontribusi dalam membangun ekosistem komunikasi yang lebih beradab dan bermartabat khususnya di ruang maya.

Berita Terkait

Gunung Sampah TPA Antang Jadi Alarm Bahaya bagi Makassar
Makassar dan Bayang-Bayang Teror Busur di Ruang Publik
Parkir Liar di Makassar Tak Kunjung Tuntas, Warga Tagih Penanganan Serius
Pengamen dan Pengemis Marak di Losari, Pemerintah Wajib Cari Solusi
Film Horor Indonesia Terjebak di Isu Santet
Fantasi Sedarah, Saat Batas Moral Tergerus di Jagad Maya
Ruang Kelas atau Ruang Dagang? Bisnis Buku di Balik Nama Pendidikan
Pemerintah Kaji Program Pembinaan Siswa di Barak Militer Gagasan Gubernur Dedi Mulyadi

Berita Terkait

Senin, 24 November 2025 - 19:26 WITA

Gunung Sampah TPA Antang Jadi Alarm Bahaya bagi Makassar

Minggu, 23 November 2025 - 10:15 WITA

Makassar dan Bayang-Bayang Teror Busur di Ruang Publik

Jumat, 21 November 2025 - 21:18 WITA

Parkir Liar di Makassar Tak Kunjung Tuntas, Warga Tagih Penanganan Serius

Jumat, 21 November 2025 - 19:09 WITA

Pengamen dan Pengemis Marak di Losari, Pemerintah Wajib Cari Solusi

Rabu, 19 November 2025 - 11:41 WITA

Film Horor Indonesia Terjebak di Isu Santet

Selasa, 3 Juni 2025 - 17:49 WITA

Fantasi Sedarah, Saat Batas Moral Tergerus di Jagad Maya

Rabu, 28 Mei 2025 - 07:16 WITA

Ruang Kelas atau Ruang Dagang? Bisnis Buku di Balik Nama Pendidikan

Sabtu, 10 Mei 2025 - 20:13 WITA

Pemerintah Kaji Program Pembinaan Siswa di Barak Militer Gagasan Gubernur Dedi Mulyadi

Berita Terbaru