Oleh : Atika Ambarwati
Mahasiswa Komunikasi Umi, Pemerhati Social
Mufasyahnews.com, Makassar – Pantai Losari sebagai ikon wisata kota Makassar selalu menjadi pilihan favorit masyarakat untuk menikmati pemandangan laut, bersantai, atau sekadar menghabiskan waktu sore bersama keluarga dan teman. Namun, di balik keindahan matahari terbenam dan suasana ramai pengunjung, kini muncul fenomena yang mulai menimbulkan keresahan, yakni maraknya pengamen dan pengemis yang beraktivitas di sekitar kawasan tersebut.
Berdasarkan pengalaman pribadi saat berkunjung ke Pantai Losari, penulis mendapati bahwa para pengamen dan pengemis kini semakin sering terlihat di berbagai titik. Mereka tidak hanya berdiri di area tempat duduk, tetapi juga berjalan mendatangi pengunjung satu per satu. Dalam beberapa kesempatan, pengamen tetap melanjutkan nyanyian meski sudah ditolak secara halus. Setelah itu, mereka meminta bayaran secara langsung dengan nada yang terkesan memaksa.
Hal serupa juga penulis lihat pada sejumlah anak kecil yang berkeliling meminta uang kepada pengunjung. Mereka tidak membawa wadah seperti kaleng atau kantong, melainkan langsung menadahkan tangan dan memohon secara terus-menerus. Beberapa bahkan tampak sudah terbiasa melakukan hal itu, seolah-olah menjadi rutinitas harian mereka di kawasan wisata tersebut. Situasi seperti ini tentu menimbulkan rasa iba, namun disisi lain juga membuat pengunjung merasa tidak tenang saat ingin menikmati suasana pantai.
Sebagai pengunjung, penulis merasa prihatin melihat anak-anak yang masih di bawah umur berada di jalanan hingga larut malam. Keberadaan mereka menunjukkan adanya persoalan sosial yang cukup kompleks. Tidak jarang muncul pertanyaan, di mana peran orang tua dan sejauh mana pengawasan pemerintah terhadap aktivitas seperti ini? Apakah mereka memang dibiarkan, atau bahkan diarahkan untuk mengemis sebagai cara memperoleh penghasilan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini muncul karena jumlah mereka terlihat semakin bertambah dari waktu ke waktu.
Meskipun aktivitas mengamen dan mengemis tersebut menimbulkan rasa kurang nyaman bagi pengunjung, penulis menyadari bahwa kondisi ini tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada mereka. Banyak di antara para pengamen dan pengemis ini kemungkinan berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi sulit. Bagi sebagian orang, mengamen atau meminta-minta mungkin menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup di tengah keterbatasan lapangan kerja.
Namun, jika situasi ini terus dibiarkan tanpa pengawasan dan solusi yang jelas, dikhawatirkan Pantai Losari akan kehilangan citranya sebagai destinasi wisata yang nyaman dan aman. Tidak sedikit wisatawan yang akhirnya memilih untuk tidak berlama-lama di area publik karena merasa terganggu oleh aktivitas pengamen yang berpindah-pindah dan pengemis yang terus menghampiri. Hal ini tentu berdampak pada kesan wisatawan terhadap wajah kota Makassar sebagai kota pariwisata.
Pemerintah Kota Makassar sejatinya telah beberapa kali melakukan penertiban di kawasan Pantai Losari. Namun, fenomena ini tampaknya tidak bisa diselesaikan hanya dengan razia sesaat. Setelah penertiban dilakukan, tidak butuh waktu lama hingga para pengamen dan pengemis kembali beraktivitas seperti biasa. Hal tersebut menunjukkan bahwa masalah ini membutuhkan penanganan yang lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
Menurut pandangan pribadi, langkah yang dapat ditempuh tidak hanya sekadar menertibkan, tetapi juga memberdayakan. Pemerintah bersama masyarakat bisa bekerja sama dalam menciptakan program pelatihan keterampilan, membuka lapangan kerja alternatif, atau memberikan wadah kreatif yang terorganisir bagi para pengamen agar mereka dapat menyalurkan bakat tanpa mengganggu pengunjung.
Selain itu, perlu ada perhatian khusus terhadap anak-anak yang mengemis di jalanan. Penanganan terhadap mereka seharusnya tidak hanya dilakukan dengan memindahkan atau menertibkan, tetapi juga dengan memastikan bahwa mereka mendapatkan hak pendidikan dan perlindungan yang layak. Jika dibiarkan, mereka akan tumbuh dalam pola hidup yang menganggap mengemis sebagai satu-satunya pilihan, yang pada akhirnya menciptakan siklus sosial yang sulit diputus.
Masyarakat sebagai pengguna ruang publik juga memiliki peran penting. Memberikan uang secara langsung kepada pengamen dan pengemis mungkin terlihat sebagai bentuk empati, namun hal itu justru bisa memperkuat kebiasaan mereka untuk terus berada di jalanan. Sebaliknya, masyarakat bisa menyalurkan bantuan melalui lembaga sosial atau program pemerintah yang secara langsung membantu keluarga kurang mampu.
Fenomena pengamen dan pengemis di Pantai Losari tidak hanya menjadi persoalan kenyamanan, tetapi juga cermin dari masalah sosial yang lebih dalam. Diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga sosial untuk menanganinya secara bijak dan manusiawi. Dengan penanganan yang tepat, diharapkan Pantai Losari tetap menjadi ruang publik yang indah, aman, dan tertib, sekaligus mencerminkan wajah Makassar yang ramah dan berdaya.












