Oleh : Fauziah Nurinayah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi & Penikmat Film
Mufasyahnews.com, Makassar – Dalam dunia hiburan, film bukan sekadar tontonan yang memanjakan mata dan telinga, melainkan sesuatu yang mampu merefleksikan realitas kehidupan manusia. Saya berpendapat bahwa filmmemiliki kekuatan besar karena setiap adegan, dialog, hingga visual menyimpan pesan yang mampu merefleksikan realitas manusia serta membentuk cara pandang penontonnya terhadap dunia. Di era modern saat ini, film menjadi ruang untuk memahami, mengkritik, dan bahkan merasakan kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Setiap film menyimpan pesan tersirat yang dapat menggugah perasaan maupun kesadaran sosial.
Selera orang dalam genre film berbeda-beda karena ada orang yang suka menonton film yang menantang dan menguji adrenalin, seperti film bergenre horor. Di Indonesia, genre horor menempati posisi istimewa. Minat publik terhadap film yang menantang adrenalin sangat tinggi. Dikutip dari KumparanNEWS, pada 2023 film “Sewu Dino” berhasil meraih 4.344.901 penonton dan menjadi film terlaris tahun itu. Hal serupa terjadi pada 2022 ketika “KKN Desa Penari”mencetak 10,1 juta penonton. Hampir setiap bulan, bioskop Indonesia konsisten menayangkan film-film horor, dan genre ini terus mendominasi daftar tontonan populer.
Namun, di samping itu, sebuah film juga seharusnya memiliki pesan moral untuk penonton sebagai bentuk simbiosis mutualisme antara penonton dan pembuat film.Meski demikian, muncul kecenderungan stagnan pada tema yang diusung. Banyak film horor lokal kembali pada formula serupa: kisah santet, guna-guna, dan variasinya. Dikemas dengan judul yang berbeda, namun pola naratifnya cenderung berulang dan ide ceritanya kurang berani mengeksplor hal atau fenomena baru.
Realitas ini menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat film di Indonesia masih bermain aman, mengikuti pola yang dianggap “pasti laku” di pasaran. Padahal, Indonesia memiliki kekayaan budaya, legenda, dan mitos dari berbagai daerah yang jauh lebih luas dan belum banyak dieksplorasi secara kreatif. Hal ini bisa menjadi inspirasi kuat untuk membangun cerita horor yang tidak terkesan itu-itu saja. Masalahnya bukan sekadar ide yang itu-itu saja, tetapi juga pada pendekatan yang dangkal terhadap ketakutan. Akibatnya, film horor lokal hanya bergantung pada efek kejut semata tanpamembangun kedalaman psikologis karakter atau tekanan emosional yang membuat penonton larut dalam cerita.
Padahal rasa takut yang paling efektif bukan berasal dari sosok hantu yang tiba-tiba muncul, melainkan dari bagaimana seseorang mampu membangun dan mengemas cerita mistisdengan atmosfer, konflik batin, dan simbolisme yang menyentuh akar persoalan manusia. Hal tersebut dapat menciptakan tekanan emosional yang dirasakan baik oleh karakter maupun penonton.Industri film Indonesia sesungguhnya memiliki potensi besar untuk menciptakan horor yang lebih bermakna dan progresif. Dibutuhkan keberanian dan kreativitas untuk keluar dari zona nyaman, serta kemauan menghadirkan cerita yang relevan dengan kondisi sosial.
Sebuah film memiliki kekuatan untuk mendidik dengan menyajikan nilai moral, etika, dan pengetahuan yang dapat diserap melalui visual dan cerita. Selain itu, terdapat solusi yang bisa menjadi jembatan untuk kemajuan, yakni menghadirkan cerita yang relevan dengan realitas sosial. Tema-tema horor psikologis yang menggabungkan ketakutan dan refleksi mampu menghadirkan pesan moral, kritik sosial, atau gambaran krisis spiritual yang sedang dialami masyarakat.Film horor seharusnya dipandang bukan hanya sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai ruang refleksi.
Ketakutan dalam film bisa menjadi simbol dari persoalan sosial yang lebih luas.Dibanyak negara, pendekatan ini sudah berkembang; film horor tidak hanya menampilkan hantu atau adegan gore, tetapi juga menyimbolkan isu seperti kekerasan, ketidakadilan, trauma kolektif, hingga kegelisahan masyarakat modern. Formula semacam ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembuat film di Indonesia untuk terus memperluas eksplorasi mitologi, naratif, dan visualnya.Penonton Indonesia kini sudah cukup cerdas dan kritis untuk menerima bentuk horor baru yang lebih dalam dan reflektif, bukan sekadar hiburan sesaat.
Kini tantangannya ada pada para pembuat film: beranikah mereka menakut-nakuti penonton dengan sesuatu yang lebih dari sekadar sosok hantu? Karena sejatinya, horor terbaik bukanlah yang membuat kita menjerit di kursi bioskop, melainkan yang membuat kita berpikir lama setelah film selesai.












